Laut Bercerita


Telah kutelantarkan doa pada gelombang laut, lalu menjelma buih di mulut pantai. Dukaku yang telah mencapai masa purna menjadi aib bagi ingatanmu.

 Lalu siapakah sebenarnya yang berduka di antara kita? Kau yang merentangkan kedua tangan di laut pasang, menjemput maut di tengah gelombang, menekuni ia yang terbiasa menggarami cuka di tubuhnya. 

Air mata telah berganti warna, merubah nasibmu. Dari tangan-tangan yang terbiasa menganyam luka, kini perasaan telah menjadi maut. Dipaksa menyerah pada kehendak musim, meneladaniku ke arah yang gelap. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Rangga.

The Notebook